Ini adalah pertama kalinya saya memutuskan untuk baca novel setelah nonton filmnya, karena kejadian biasanya adalah baca novelnya dulu, dan ikut antusias ketika filmnya hadir, lalu ada kecewa setitik dua titik setelah nonton filmnya, tapi ujungnya tetep ngefans dan baca-nonton berulang kali. Contoh: Harry Potter.

Tapi untuk yang satu ini, kebalik, pemirsa. Saya nonton dulu filmnya, terus karena penasaran dengan kehebohan film ini, dan kesengsem sama pemain utamanya, jadi saya mencoba membaca lagi novelnya. Novel karya Pidi Baiq yang saya coba berulang kali baca tapi berhenti di situ-situ saja, dan akhirnya saya kembalikan ke pemiliknya dan bersedih hati karena numben banget saya nggak bisa menyelesaikan bacaan romansa yang trendi pada masanya.

Setelah nonton dan nulis reviewnya, Olva dan Anya bilang, “coba baca novelnya, gih! Lebih bagus dari pada filmnya! Urutannya lebih tertata, ceritanya juga karena bentuk tulisan, jadi nggak kayak yang di film gitu!” Begitu kira-kira.

BAIK!

(sumber : http://jatim.tribunnews.com)

Sebelum baca, saya keburu kecebur ke kolam berisi manisnya hubungan Iqbaal dan Vanesha atau yang punya panggilan sayang ‘Lia’, barisan paling depan diisi sama Bundi Irma dan Nadia! Berawal dari search hashtag #Dilan1990 di IG, ujungnya malah kebawa ke halaman-halaman kompilasi chemistry Iqbaal dan Vanesha! Ini ngehek banget, sih, karena biasanya saya nggak punya One True Pairing atau OTP versi lokal. OTP saya sampai saat ini adalah Ellen Pompeo & Patrick Dempsey serta Milo Ventimiglia & Mandy Moore. Dan baru kali ini, saya mesem-mesem sendiri, bisa nyengir nggak jelas lihat perjalanan promo atau BTS Film Dilan 1990 yang isinya Iqbaal sama Sasha. Sambil ikut doain supaya filmnya tembus 7 juta penonton, jadi Milea berangkat ke Amerika gitu, HA HA HA!

via GIPHY

Bener kata Teppy, Iqbaal sama Sasha berhasil memerankan Dilan dan Milea dalam suasana percintaan anak SMA yang nggak pake mikir. Kapan lagi bisa senyum-senyum gara-gara kerupuk coba? Jadi baca bukunya jangan dipikirin, nonton filmnya juga nggak usah dipikirin. Gitu kali ya? Karena tanpa dipikirin terlalu dalam, akhirnya saya bisa menyelesaikan Dilan – Dia adalah Dilanku 1990, Dilan – Dia adalah Dilanku 1991, dan Milea, Suara Dari Dilan.

(Sumber: kapanlagi.com)

Hmm, kira-kira apa faktor yang membuat saya bisa menyelesaikan membaca tiga novel dalam tiga hari?

  1. Saya ngebayangin muka Iqbaal dan Sasha dalam setiap adegan di buku.
  2. ….
  3. ….
  4. ….
  5. ….

Ternyata cuma satu doang! Hahahaha, ya monmaap, jadi karena saya udah nonton, jadi kebayang gimana muka Milea dan Dilan, sambil memperbaiki alur dan suasana Bandung yang ada di filmnya. Karena Pidi Baiq menuliskan semua nama jalan dan daerah di Bandung dengan jelas, maka saya bisa membayangkan dengan baik, dan menghapus memori buruk lokasi syuting yang di situ-situ doang.

DAN BACA NOVELNYA NGGAK BOLEH SAMBIL MIKIR, YA! x)

Karena kalau sambil diperhatikan detailnya, nanti akhirnya kesal lagi sama beberapa nilai sosial yang ada di novel tersebut. Terus yang saya baca ini sudah versi revisi rupanya, jadi ada beberapa penjelasan detail tentang ini dan itu, yang menurut saya nggak penting, tapi di Indonesia yang beginian jadi penting. Jadi #yaudahlahya momen gitu, hehehe. Nah, kalau novelnya dibaca tanpa banyak tanya dan dinikmati semudah mencelupkan kerupuk ke kuah bakso, maka kisah cinta masa SMA ini jadi enak, pemirsa!

Tidak mudah bagi pembaca novel kritis, tapi jadi mudah kalau udah ngebayangin mukanya Iqbaal sama Sasha jadi Dilan sama Milea, MAHAHAHHA! Oke, sebelum baca, nonton ini dulu, deh.

 

Udah nontonnya? Udah gemes belum? ~(^.^)~

Novel Dilan 1990 dan Dilan 1991, menceritakan kisah cinta Dilan dan Milea dari sudut pandang Milea. Bagaimana cara Dilan ngejar dan menyatakan rasa cintanya ke Milea dengan cara yang sungguh berbeda, terus bikin senyum-senyum sendiri pas baca. Bagaimana pergulatan batin Milea setiap kali mau ngambil keputusan dalam hubungan bersama Dilan, hingga romansa receh khas 90 (yang tentunya nggak saya lewati, karena saat Dilan dan Milea kelas 2 SMA, saya masih umur 5 tahun) bisa bikin saya gemes sendiri pas baca. Gemes, kesel, terus kembali ke tahap penyadaran “baca aja, jangan dipikirin, Ki!”

Novel Milea, Suara Dari Dilan, ini justru lebih menarik buat saya, karena ada bagian kosong di novel Dilan yang diisi di seri ketiganya ini. Sudut pandang Dilan, bikin saya menganggukkan kepala dan berkata dalam hati “ooh, ini ya, kenapa Iqbaal yang dipilih!” -tetep ujungnya si ex Coboy Junior. Ada banyak cerita latar yang ditambahkan oleh Dilan di sini. Dan setelah beres baca Milea, saya jadi pengen bisikin ke Milea “ari Milea sehat? Kunaon maneh teh, heiii!”

Perlu moral of the series nggak nih?

Nggak usahlah, ya! Kan bukan novel buat mikir! HAHAHA

Tapi yang pasti, novel ini ngasih tau kalau setiap koin punya dua sisi. Jangan diliatin nominalnya melulu, lihat gambar baliknya juga biar penuh pengetahuannya. Jadi uang logam 500, baliknya ada gambar apa hayo?

Satu lagi, saya nggak pernah bisa menikmati lagu-lagu The Panas Dalam, yang merupakan band dari Pidi Baiq. Nggak tau ya kenapa, mungkin dulu pernah ada trauma waktu interview beliau-beliau di Ardan pada masanya saya siaran, hahaha, lalu kemudian tidak ingin bersentuhan dengan karya-karya beliau. Jadi saya juga nggak melirik sama sekali ke soundtracknya. Atau pas jadi MC dan Pidi Baiq jadi bintang tamunya, saya nggak bisa ketawa sama becandaannya. EHE!

Tapi lagi-lagi karena pesona Iqbaal Ramadhan yang nyanyiin lagu Rindu Sendiri, saya jadi nyari-nyari lagunya, dan ternyata Rindu Sendiri mah bukan ciptaan Pidi Baiq, x))! Tapi ternyata juga lagu-lagu Voor Dilan ini dinyanyikan oleh seorang perempuan bernama Ajeng KF.

Lagu Rindu Sendiri ini juga banyak yang cover, cek di YouTube! aja, ya.. Udah banyak banget. Salah satu favorit saya adalah versi Hanin Dhiya, dan ini dimedley gitu, Rindu Sendiri dan dua lagu Voor Dilan yang bagus jadi satu klip. LEUV banget! Kaulah Ahlinya jadi satu-satunya lagu yang masuk buat telinga saya, sih. Kalau Dulu Kita Masih Remaja, ya gitu aja. But seriously, check this one out and feel the love.

 

Demikianlah, perjalanan saya untuk mengenal Dilan dan Milea. Kritik untuk film dan cerita cintanya masih ada dan tidak saya ralat di postingan sebelum ini, ya. Cerita yang ini cuma untuk ngejelasin gimana akhirnya saya bisa berhasil menyelesaikan novel Pidi Baiq. Maka dari itu, sesuai judul blog hari ini: Pidi Baiq harus mengucapkan terima kasih ke Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla yang menurut saya oke banget chemistry-nya dan bikin saya jadi bisa baca serial novel Dilan-Milea, serta menikmati lagu-lagu iringannya, yang tadinya nggak saya lirik sama sekali.

Sazki kualat apa gimana? Emm, enggak, sih, ya. Kan kritiknya tetep sama dan nggak berubah setelah baca novelnya. Tapi setidaknya, hal-hal yang tadinya nggak menarik sama sekali buat saya jadi menarik karena ada media lain yang menyampaikan, dalam hal ini Iqbaal dan Sasha. Mohon maaf minggu ini saya belum bisa nonton lagi demi nambahin jumlah penonton supaya Sasha ke USA dan dateng ke acara kelulusan Iqbaal karena anak saya lagi sakit. Kalau nanti ada kesempatan, maulah nonton lagi, buat Iqbaal sama Vanesha! :”)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *