Setelah dibombardir dengan meme, potongan gombalan Dilan, dan raungan “mau nonton lagiiii” di semua channel social media, akhirnya kemarin saya nonton Dilan 1990 ini bersama teman yang seleranya, yaaa bisa dibilang mirip-mirip, lah! Hahahaa.. Iya, saya nonton sama Anya, cukup dadakan dan beli tiket pake point CGV supaya kalau nggak sesuai ekspektasi, nggak akan merasa rugi gitu, HAHAHA.. #GengMbungRugi

Oh iya, sebelumnya saya nggak nonton trailernya, bahkan potongan-potongan teaser yang ada di Twitter atau IG pun nggak saya intip. Saya juga nggak baca novelnya Pidi Baiq ini. Sebetulnya dulu pada masanya buku ini terbit, saya sempat meminjam ke teman. Tapi berhenti di halaman 9. Di situuuu ajaa, nggak pernah tertarik untuk meneruskan membaca. Nggak tahu juga kenapa, bahkan saya bingung, karena saya ini suka banget baca roman picisan.

Anyway, ketika tahu novel ini diangkat ke layar lebar, saya biasa saja. Tidak memberikan kritik, tidak juga mendukung, serta tidak berkomentar. Tapi saya cukup takjub dengan antusiasme para pembaca novel dan penggemar sosok Dilan-Milea. Hingga akhirnya, filmnya rilis tanggal 25 Januari lalu. Oh, ada dua hal yang menarik buat saya untuk film Dilan 1990 ini. Pertama, musiknya digarap oleh teman saya, Andhika Triyadi, PROUD OF YOU, JUN! Kedua, event launching filmnya di Bandung, digarap oleh Atap Promotions tempat kantor suami saya bekerja.

Nah, sebelum memutuskan untuk nonton, saya udah duluan baca review suka-sukanya Teppy yang joss jiwo! Review Teppy untuk film apapun akan membuat pembacanya tertawa dan kemudian merasa harus nonton. Lalu saya juga baca review novel Dilan 1990 dari April, yang cukup tajam dan memperluas sudut pandang kita untuk novel romantis. Gagasan ideologi patriarki ini cukup tajam ditanam dalam novel Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990.  Lalu saya tersadar, kayaknya ini sih yang bikin saya berhenti di halaman 9. Mungkin konsep kepatriarkiannya terlalu kuat sehingga saya malas meneruskannya. :”)

Ketika kemarin akhirnya nonton, saya sengaja memilih kursi teratas supaya nggak ganggu orang lain kalau-kalau komentar dari mulut kami terlalu tajam, atau kalau lagi salah reaksi (harusnya tersipu tapi malah ngakak) nggak ganggu penonton lainnya. Hehehee.

Film Dilan 1990 secara alur baik-baik saja. Cerita khas novel romantis dengan setingan SMA adalah kembang sekolah ditaksir sama ketua geng paling bandel. Jagoan, bandel, badass boy gitu kan emang ngegemesyin ya, dan Iqbal lumayan berhasil jadi anak bandel di sini. Sebelum bikin list hal yang mengganggu dan bikin saya mengernyitkan dahi, ada satu hal yang saya suka dari Dilan yaitu ketika ia bereaksi saat ditampar guru BP-nya. Walaupun Dilan ngomongnya pake kata ganti ‘aku’ ke guru-guru yang menurut saya nggak sopan, tapi reaksi untuk berani mempertahankan diri saat ia tidak melakukan kesalahan ini patut diapresiasi. Hanya saja perlu diingat, mempertahankan diri bukan berarti berani menuju tidak sopan ke guru. Selain itu, motor Honda CB dan rumah asri khas Bandung lumayan bikin adem mata sepanjang film ini.

Baiklah, mari menuju ke inti dari postingan ini, hahahaa. Jadi ada (banyak) hal yang mengganggu sepanjang film. Kita bikin list aja biar enak dibacanya.

  1. Intonasi bicara Dilan yang cenderung menekan ke Milea. Ada yang merhatiin nggak? Dilan tuh ngegas loh ke Milea. Gas kebanyakan gitu. Ya namapun superior di sekolah, ya, jadi mungkin itu wajar. Tapi kalau saya yang lagi dipdkt, saya mundur sih. Nggak kuat, kak, digas melulu.
  2. Adegan ketemu Bunda-nya Dilan yang tiba-tiba pengin cium Milea. Milea pengen meluk Bunda. Dan tiba-tiba bilang ‘calon mertua’ pas ditanya sama adeknya.
  3. Setting tempat syuting yang nggak pas dengan penjelasan lokasi detail oleh tokoh-tokohnya. Sekolah di Buah Batu, rumah di jalan Banteng. Tapi daerah syutingnya di Cilaki, Cisangkuy, Taman Cibeunying, Brantas, dan Serayu. Jadi angkot Buah Batu-Kalapa yang tiba-tiba ada di simpang Taman Cibeunying kan aneh. Mana semua daerah itu nggak dilewatin angkot lagi aslinya. (oke ini teknis, tapi buat saya yang suka hal detail, jadi ganggu, hehe)
  4. Milea main ke rumah Dilan sampe malem, terus ngajakin Bunda beberes kamarnya Dilan. I mean, what the heck? Terus Milea nggak dicariin ibu dan bapaknya sama sekali. Bapaknya tentara kan ya? Jarang banget tentara yang nggak nyariin anaknya
  5. Milea nggak mau jalan ke ITB sama Kang Adi, berharap dilindungi bapaknya, tapi ternyata malah disuruh. Bapaknya nggak peka apa emang leih sayang sama senapannya? Sampe kode Milea nggak diterima, dan akhirnya Milea jalan sama Kang Adi terus berujung sama kegalauan Milea karena bohong sama Dilan.
  6. Jalan-jalan naik motor keliling Bandung nggak pake helm. Dilan sayang sama Milea gak sih? Kalo sayang beneran, pake helm kelessss!
  7. Teknis lainnya adalah make up anak SMA yang buat saya masih kelihatan. Maskara on point. Rambut diblow on point. Seolah pelajaran nggak cukup susah, ada banget ih waktu pake maskara dan ngeblow rambut. Next time coba lebih necurel ya make up-nya.

Udah ternyata cuma tujuh. Tapi ada beberapa hal yang lebih mengganggu buat saya yaitu ideologi patriarki yang cukup kuat di sini. Sehingga saya mengamini review April. Kepatriarkian yang diulas April berdasarkan novelnya ternyata cukup terlihat kuat juga di sepanjang film ini. Bagaimana Milea dibuat takluk sama Dilan, padahal awalnya sudah cukup terganggu ketika jalan kaki terus dideketin Dilan naik motor, dan digoda. Lucu sih kalau dilihat sepintas, tapi kalau diseriusin, menuju pelecehan sih. Sama aja kayak hal bernama cat calling. Milea terlihat tidak nyaman, dan ketika perasaan tidak nyaman itu muncul, Milea tidak melawan tapi malah diam. Benar kata Sita di notes FBnya. Mendingan Cinta-nya Rangga yang berani teriak ketika Cinta disudutkan di pinggir lapangan basket dan berteriak sebagai tanda protesnya. Sementara Milea malah mengorbankan diri diantara hujan batu dari geng sebelah yang mau nyerang sekolah Dilan, demiiiii mencari Dilan sang pujaan hati yang ternyata lagi santai aja di belakang gereja.

To sum it up, film ini tidak cukup kuat seperti AADC yang bikin saya mau nonton berulang kali hingga mengoleksi VCD-nya. Untuk saya film ini cukup ditonton sekali untuk memuaskan rasa penasaran saya atas review netizen dan teman-teman yang memasukkan Dilan 1990 dalam list ‘must watch’-nya. Buat saya, film ini akan lebih indah kalau kepatriarkiannya dikikis sedikit. Akan lebih indah kalau Bapaknya Milea bisa melindungi dan mengetahui mimik tidak nyaman anaknya. Jadi kalau ada apa-apa bisa minta tolong ke bapak bukan ke pacarnya. Kalau sudah jadi suami lain cerita yaa.. hahahha… gombalan ala Dilan? Boleh sedikit-sedikit, jangan kebanyakan, ntar pusing kayak kebanyakan makan makanan berpenyedap berlebihan.

4 thoughts to “[REVIEW] Dilan 1990

  • Teppy

    Hai mbak Sazkia! Salam kenal! Terima kasih sudah baca reviewku!

    aku setuju sama poin ke-2 karena: CRINGE. hahahahhahah.
    poin ke-4 juga. malah aku suka bingung sama penunjukan waktu di film ini. ini sekolah kelar jam berapa, kenapa harinya bisa panjang bener abis main sama Dilan sampe malem masih bisa makan malam, mandi, terus kursus sama kang Adi #YHA

    Tapi buatku Dilan menangin hatiku banget di sini *sahelah* yang aku yakin itu karena faktor Iqbaal jago bawainnya. Kalo bukan karena Iqbaal yang mainin karakternya sebaik itu, aku nggak yakin filmnya akan seberbekas itu buatku, terlepas kekurangan-kekurangannya.

    Reply
  • rindu

    halo mba saz..ngeliat review ini jd keinget kmrn baru nonton dan abis itu yg dirasain hampir sama kayak yg ditulis mba saz,apa karna udah ngelewatin masa2 itu ya,tp yg kata orang jd nostalgia,saya mah gak dapet nostalgianya 😂,sepertinya ini jg bisa jd judulnya emak emak yg punya anak perempuan ya,karna saya dan suami jg jdnya berpikir,kelak kita dan anak kita bakal begini,tp saya gak akan bolehin anak gadis di rumah pacarnya sampai mlm trus cuman buat nongkrongin pacarnya tidur demi biar gak ikut tawuran haha..tapi emang de iqbal nya ini manis,apalagi kalo pitnes dikit biar keliatan garang gt pas mukulin anhar 😆

    Reply
  • Rina

    Hai mb saz, sy mau komen utk point 6 mgkn utk pencerahan bahwa di thn 90 memang belum ada aturan kewajiban pakai helm. UU tentang lalu lintas dan jalan baru ada di thn 1992, tepatny UU no. 22 thn 1992 tentang Lalu Lintas dan Jalan.

    Reply
    • sazqueen

      Haiii, iyaaa, aku sudah membaca novel edisi revisinya dan dijelaskan di situ ya 😀 hehehe terima kasiiihhh

      Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *