Kemarin malam, kami menghabiskan malam minggu di bioskop. Pilihan filmnya tentu saja COCO! Ketika tahu Pixar akhirnya membuat film baru, saya yang paling semangat. Saya nggak akan spoiler, lah, ya. Cek trailernya dulu, kakak!

Film dengan latar budaya Latin ini, mengeluarkan warna-warni yang meriah, seolah menutupi kegelapan benang merahnya tentang kehidupan setelah kematian. Pixar kan emang jagoan ya bikin film model begini. Semacam Wall-E yang bikin kita mikir tentang post-human future life, atau Inside/Out yang ngajak kita menyelami alam bawah sadar yang relate banget sama kehidupan sehari-hari.

Alkisah di Santa Cecilia, sebuah kota di Meksiko, ada seorang anak bernama Miguel yang tumbuh dalam keluarga pembuat sepatu. Usaha sepatu ini adalah bisnis keluarga yang turun temurun, jadi dapat dipastikan, Miguel pun harusnya menjadi pembuat sepatu. Namun Miguel merasa, ia bukan pembuat sepatu. Ia ingin bermain musik. Miguel ingin menjadi musisi. Padahal musik adalah hal yang diharamkan di keluarga mereka.

Yup! Perbedaan keinginan, kesukaan, bahkan tujuan hidup merupakan hal yang biasa ditemukan dalam keluarga manpun di seluruh dunia. Dan tidak jarang, perbedaan ini yang membuat perpecahan dalam keluarga. And it happened to Miguel 🙂

Plotnya berada di sebuah perayaan budaya di Meksiko, Día de los Muertos — the festive holiday celebrated in Mexico to honor the dead. Jadi saat Día de los Muertos berlangsung, keluarga mendatangi makam, menabur bunga Marigold yang banyak, dan jangan lupa memasang foto keluarga yang sudah meninggal, agar saat perayaan hari kematian ini, keluarga yang sudah meninggal bisa menyebrangi jembatan bunga dan melihat keluarga serta kerabat yang masih hidup.

Saya belum pernah mengenalkan konsep kematian dengan jelas ke Menik, and thanks to Pixar, karena saya bisa menjelaskan tentang kehidupan setelah kematian setelah film Coco ini. So who is Coco? Coco adalah anak nenek buyut Miguel. Dan untuk tahu lebih lanjut tentang Coco, Miguel, dan Day of The Dead ini, lebih baik pada langsung nonton sendiri aja, ya!

Sepulang nonton ini, rupanya Menik mimpi buruk. Mungkin karena banyaknya sosok tengkorak yang muncul di film ini. Tapi tadi pagi saya berusaha menjelaskan, bahwa tengkorak bukanlah hal yang menyeramkan. Saya juga cerita kalau kehidupan setelah kematian itu memang ada, walau agama yang kami anut berbeda dengan Miguel, tapi konsep untuk mendoakan dan mengenang kerabat yang sudah meninggal menjadi hal yang sama untuk diamalkan. Dari film ini, kita bisa mengenal hari perayaan orang yang sudah meninggal di Mexico sampai hewan mistis bernama alebrijas, makhkluk suci dari legenda Meksiko yang divisualisasikan sebagai hewan mistis dengan warna neon di tubuh mereka.

Memvisualisasikan kehidupan setelah kematian bukanlah hal yang mudah. Coco bisa jadi media yang pas untuk menjelaskan tentang konsep ini. Udah lama nggak nangis setelah nonton film kartun, kan? Well Pixar once again did it and win my heart!

**

Ada bonus film pendek Olaf sebelum Coco mulai. Durasinya 30 menit-an. HA HA HA. I know, pretty long and kinda boring because Elsa is singing all the time. And my husband fall asleep during this extra. Tapi kalau anaknya suka banget sama princess dan Disney dan Frozen, ya udahlah ya. Jadi happy dulu sebelum dibawa ke alam Barzakh. Ehehehehe.

ENJOY COCO!

One thought to “‘Coco’, Karena Ada Hidup Setelah Mati”

  • Tita

    .setelah saya nntn film ini…saya berpikir wah kayanya jalan ceritanya terlalu berat buat ukuran anak anak…animasi nya memang keren..saya aza ‘mlz’ ngikutin alur nya..apalagi anak anak pasti cepet bosen..saya lebih suka ferdinand lucu ..kan film anak anak memang harus seperti itu
    .tapi setelah baca blog ini saya baru ngeh oh gtuh yaa inti dari film ini ternyata bagus juga dan itu mengubah cara pandang saya ttng film ini ..
    .tapi apakah “pesan” moral nya akan nyampe ke anak anak?? ..

    Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *