“How does it feel to be seen as a content person yet you feel empty, but nobody see it? It is sucks. It hurts. It drives you crazy. It makes you feel tired. Because everybody seems to expect something good from you. They’re expecting your ear to ear smile. They are careless about you holding in the grudge inside your heart.

Well no, they are not careless. They don’t know what’s inside you. What is running around your mind. What is bothering you. They have no idea, at all. The thing is you can not expect people to understand you. They read through your social media feed. They judge you as a person who happened to have one happy content life. We can not blame them because they are not living in our shoes. And it’s not their fault.”

Potongan ini saya tulis sekitar 6 bulan lalu. Tersimpan di notes, kalau tidak salah muncul setelah ada seorang teman yang menyampaikan pendapatnya tentang hidup saya yang nggak pernah susah. Waktu itu, saya hanya tertawa sebagai reaksi. Tapi saya menambahkan “ya kali gue nggak pernah susah. Lo aja yang nggak pernah tau…”

Malamnya saya jadi kepikiran, sih, apa iya orang nggak pernah lihat ketika saya merasa sedang susah. Sering banget padahal. Namapun kelas menengah, ya. Ada aja masa kepentok kiri dan kanan. Lalu saya memutuskan untuk mereview tulisan-tulisan di blog, melihat feed IG dan juga Facebook. Ya emang nggak ada susahnya ya, kalau dilihat dari jendela media sosial. Soalnya yang dipajang yang bikin bahagia aja. Paling kalau lagi rindu sama almarhum Bapak aja yang sering saya posting di blog. Bagi saya, nggak ada gunanya berbagi kepedihan. Dan sepertinya ini berujung pada rasa gengsi saya yang lumayan besar. Ehe ehe ehe!

Jadi Kiki gengsi kalau harus berbagi kepedihan atau kesusahan? Ya, enggak. Kan saya juga sering curhat. Sering, kok, saya cerita dan minta pendapat saat saya buntu. Cerita paling sering ke suami, ya simply because he is my chosen one to be my other half. Orang yang pilih untuk percayai untuk berbagi, inya Allah, sampai akhir hayat. Dan saya juga sering curhat sama beberapa teman dekat.

Tapi untuk curhat di media sosial secara gamblang gitu kayaknya emang belum pernah lagi, sih. Dulu sudah pernah terlibat perang di media sosial, dan nggak pengin lagi diulang. Cuma dapet malu doang, hahaha. Mending kalau mau berantem, ya, langsung ajalah di lapangan. Kayak Shafa sama Jedun gitu, hauhauhauaa.

Terus apakah artinya saya berpura-pura bahagia? Enggak juga. Ya emang udah setelannya gitu. Muka jutek, hidup bahagia. HA HA HA. Seringkali curhatan yang sudah diketik panjang di status FB atau umpatan pendek di Twitter, jadinya hanya tersimpan di draft atau dihapus. Kadang-kadang, saya juga bertanya-tanya, kenapa, ternyata, orang melihat hidup saya enak dan bahagia? Padahal saya juga sering merasa frustasi, loh, terhadap banyak hal. BENERAN, GAES!

But the thing is I grew up with mixed culture, Aceh and Yogja. Jelas dengan darah Aceh, saya tumbuh menjadi seseorang yang tidak takut mengutarakan pendapat. Saya juga tidak mudah menurut jika ada sesuatu yang mengganjal. Tapi kalau saya bisa terlihat baik-baik saja, ini sudah pasti nilai dari keluarga Ibu saya. Njawani tenan, tho! Yup, ini nilai untuk menjaga keluarga 😉

Nggak ada yang tahu, kan, kalau saya udah 2 bulan ini mau beli sendal aja maju mundur. Pernah sekali posting di IG Story, tapi terus masih belum bisa memutuskan mau yang mana. Saya juga lagi bingung ada uang lebihan, mau dipake buat bayar membership gym saya pribadi atau buat nambahin les Menik yang lain. Belum lagi soal ini dan itu, banyaklah permasalahan. Namanya juga manusia, ya kan?

Tampilan selalu terlihat bahagia, bukan berarti hidupnya mulus tanpa hambatan. Maybe you think they have everything, but actually they are not. Being realistic is the key. Though you wounded by fear and injured by doubt, you are not allowed to not to put a small smile and say Alhamdulillah every single night.

Have a good weekend, people!

 

**

Photo by Blake Wheeler on Unsplash

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *