Tanggal 16 November kemarin, film Naura dan Genk Juara tayang di bioskop. Karena kemarin saya dan Menik menikmati konser Dongeng-nya di Sabuga, maka saya tidak ragu untuk mengajak Menik nonton filmnya di bioskop. Sebagai ibu yang rada riwil soal tontonan dan hiburan anak-anak zaman now, tentunya saya sudah tonton trailer dan membaca sinopsisnya. Naura ini lolos screening, lah. Lirik lagunya bagus dan berisi, cara berpakaian pun sesuai usianya. Diikuti dengan prestasi dan kegiatannya, saya meloloskan Naura jadi idolanya Menik. Satu-satunya ketakutan saya hanya kesan mewah yang mungkin akan terlihat di film itu. Tapi ya nggak apa-apalah, kalo anaknya nanya-nanya baru ditanyain, HAHHAA.. (sambil berdoa dalam hati, semoga nggak ada pertanyaan aneh dari Menik).

Nah, akhirnya tanggal 17 kemarin, kami nonton di CGV. Menik sudah super semangat karena sudah hafal semua lagu di album OST Naura dan Genk Juara, dan terlihat ekspektasinya tinggi sekali. Laluuuu bagaimana rasanya setelah nonton?

Film berdurasi 105 menit, yang disutradarai oleh Eugene Panji ini, sebetulnya bagus. Nilai-nilai yang ingin disampaikan juga padat, yang bikin saya agak “yaahh, kurang dikit nih” adalah bagian menjahit adegan demi adegan dan juga kemasan film secara keseluruhan. Emm, semacam film kejar tayang gitu. Padahal lirik-lirik lagunya bagus, setiap lagunya mulai di suatu adegan, pasti leher saya tercekat. Terharu gitu, haha. Analisa abal-abal saya sih, ini film ngejar umur Naura yang beranjak remaja. Supaya pasar anak-anak tetap dapat, jadi ‘dipaksa’ ada di akhir tahun ini.

Tapi secara keseluruhan, film yang menceritakan tentang Naura yang mewakili sekolahnya dalam kompetisi science di sebuah perkemahan kreatif ini bagus. Kalau boleh saya kasih 3.5 dari 5 bintang sebagai sebuah awal dari perubahan film anak-anak di Indonesia. Karena sejujurnya, selain Petualangan Sherina, saya belum pernah lagi menemukan film yang layak ditonton oleh anak-anak. Menik, sebagai anak yang punya screen time sangat terbatas, dan tidak memiliki akses YouTube, sangat bahagia saat saya perbolehkan nonton film ini. Lagu-lagu Naura tentunya yang jadi highlight di film ini. Liriknya mengandung nilai yang berharga. Seperti apa pentingnya jadi juara apabila tidak punya teman, atau that kinda encouraging lyric like “kita pasti bisa jadi apapun yang kita mau asal mau berusaha”, saya sih aliran yakin bahwa nilai-nilai positif yang heterogen ini akan membawa kebaikan untuk anak-anak.

Jadi kalau pada nanya “is it worth to watch?”, saya akan jawab “iya, bagus kok ditonton. Tentunya jangan lupa didampingi, ya!” Mengutip kata teman bijak saya Lita, “ngapain repot-repot nemenin kalau udah jelas film anak-anak? Ya, gapapa repot sekarang daripada repot nanti di masa depan!” Hahahhaa..

Sekarang bahas dikit soal review yang pasti banyak beredar di WA Group, sumber dari grup sebelah pastinya, ya, yang mengatakan kalau film ini menista agama Islam. Sudah pada terima belum? x))) Duh, ini lucu banget, sih. Entah saya yang lagi-lagi kurang peka, tapi saya tidak merasa agama saya dinistakan di film ini. Singkatnya gini aja, agama dan akhlak adalah hal berbeda. Idealnya orang yang beragama tentunya akan berakhlaq baik, tapi dalam hidup ini jarang sekali yang ideal, dan tidak menutup kemungkinan orang yang mengaku beragama tapi prilakunya tidak berakhlaq. Udah gitu aja. Nggak apa-apa, sih, kontra sama film ini. Namanya juga pendapat ya. Tapi nggak usah tebar-tebar kebencian, lah.

Oh iya, saya jadi ingin bertanya yang bikin review soal film Naura dan penistaan agama, kemarin waktu nonton, lihat extra film di depannya nggak? Kok film yang itu nggak dikomentarin ya? Kemarin saya nonton di CGV PVJ, dan extra di awal adalah trailer film My Generation yang sungguh kurang pantas ditonton anak-anak usia penonton film Naura. Kalau anak-anak nonton Naura didampingi orang tuanya, masih bisa deh dijelasin seperti saya menjelaskan ke Menik. Nah, kalau mereka nonton Naura sendiri atau hanya didampingin mbak asisten gimana? Adegan ciuman remaja, pernyataan having sex before marriage, dan kelakuan lainnya yang hanya sepotong dalam trailer ini bisa memicu pertanyaan. Lah, deretan belakang saya aja yang ada orang tuanya dan usia SD komentat “WAH! CIUMAN!!”. Hayooo, gimana hayooo?

Buat saya, film Naura dan Genk Juara ini jadi awal harapan film-film anak di Indonesia. Semoga habis ini makin banyak film anak-anak lokal yang menyenangkan dan penuh dengan nilai positif untuk anak-anak Indonesia.

Terima kasih Naura, ditunggu karya-karya positif selanjutnya, ya! 😉

2 thoughts to “Sebuah Harapan Dari Naura & Genk Juara

  • Yeye

    Hehehe Gue juga dpt berita itu di grup WA. Bahkan ada beberapa temen gue yang nanya ke gue tentang film ini dgn berita yang beredar, krn gue udah ntn duluan sabtu lalu. Gue sih merasa baik2 aja yah nonton itu, anak2 juga happy dan ga fokus sm org jahatnya. Lgpl org jahatnya juga lucu kok, knp hrs sensi yak #Ups

    Reply
    • sazqueen

      Hahahaa ribet ya, bok! Semua salah, macam bisa aja bikin film buat anak-anak yang berisi dan membantu tumbuh kembang mereka.. Pengen jejelin coklat sama nasi biar nggak negatif aja gitu isi otaknya. Heuhh..

      Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *