Ilsa Nelwan

Photo by @Djonk_

Pernah dengar kalimat “one thing leads to another” kan? Nah, tulisan di bawah ini merupakan salah satu contohnya. Duluuuuu, saya kenalan sama dokter Ilsa ini di rumah Kristy, teman siaran zaman di Ardan Bdg. Setahun ini ketemu lebih sering dengan beliau karena kantor kami membantu kampanye digital Yayasan JaRI. Awalnya ngobrol santai di Yayasan JaRI sebelum meeting dimulai. Tapi ternyata obrolan ini menghasilkan tulisan serius dari dr. Ilsa Nelwan, seorang pemerhati kesehatan yang  pernah  mengelola  program  perbaikan  gizi, di Jawa Barat, pernah bekerja di WHO Nepal  dan WHO South East Asia Regional Office, dan juga seorang  ibu  dari  dua anak yang sangat menikmati pengalamannya  menjadi  Ibu.

Kaget dan senang adalah reaksi saya sewaktu menerima email berisi artikel lengkap tentang Baby Led Weaning (BLW) beserta referensi artikel-artikel penting yang sayang sekali jika tidak saya bagikan di sini. Senang sekali karena kekhawatiran saya ditanggapi oleh seorang ahli. Sebetulnya, dokter Ilsa sudah mengirimkan artikel ini dari bulan Agustus, hehehe.. tapi saya baru sempat mengunggahnya sekarang. Sambil mengetik ini saya juga merasa bersyukur baru beres dikerjakan hari ini, sehingga ada jeda waktu setelah huru-hara di media Instagram kemarin, ternyata artikel tentang MPASI bayi ini masih tetap relevan. Jadi supaya makin banyak yang membaca untuk menambah pengetahuan tentang BLW, saya akan langsung share di sini, ya.

Artikelnya cukup panjang, siapkan waktu untuk membaca dengan seksama. Percayalah, tulisan dokter Ilsa ini sayang sekali jika dilewatkan. Selamat membaca!


Bayi menyapih  sendiri (Baby  led  weaning)

Oleh Ilsa Nelwan, pemerhati  kesehatan

Penyanyi Jazz Andien Aisyah yang  terkenal  karena merintis  “Baby Led Weaning”  dibahas  dalam majalah TEMPO 3 September 2017 “Ketika  Bayi  menyuap  sendiri”. Saya  merasa perlu menambahkan informasi agar  bisa dicerna oleh kalangan yang lebih luas.

Pertamasaya ingin mengajak  kita  melihat konteksnya  terlebih  dulu, yaitu “Parenting” atau bagaimana  bayi berinteraksi  dengan  kedua orang tuanya. Orang tua, ibu dan ayah si bayi diharapkan responsif  terhadap  kebutuhan  bayi, memberi makan, menenangkan, menidurkan, mengajak main sehingga  bayi  tumbuh kembang dengan baik. Ada  intuisi atau rasa yang secara  alami diberikan  pada  kedua  orang tua  dan bayinya, hal ini perlu diingat.

Ada  kecenderungan  masyarakat  saat  ini “merasa tidak tahu” selalu menganggap “ada  ahlinya”. Perlu  kita  ingat  bahwa seorang bayi  memiliki  kepribadian, sehingga  tidak ada “ahli menjadi orang tua”. Kalau  kita tanya  Ibu  yang  punya  anak lima, mungkin tidak ada pengalaman mengasuh satu  anak yang secara tepat  bisa diterapkan  pada  anak lain. Bahan bahan  yang dikumpulkan oleh para peneliti dan dikembangkan menjadi program hendaknya dilihat  sebagai acuan saja, bukan suatu  petunjuk yang  harus diikuti secara kaku.

Screen Shot 2017-10-30 at 10.16.20 PM

Kedua, ada berbagai faktor  yang mempengaruhi hubungan praktek pemberian makan orang tua dan pemberian makan bayi. Misalnya ibu atau  orang tua yang cenderung memberi kebebasan akan berbeda dengan ibu  yang merasa perlu memiliki jadwal pasti  memberi  makan  anaknya. Juga  ada masalah  keinginan ibu untuk tumbuh  kembang  anaknya, misalnya keinginan agar  anaknya  berada di “jalur hijau” pada Kartu  Menuju  Sehat (KMS).

Selain  itu , misalnya ibu ingin  agar anaknya hanya suka  sayur atau  suka berbagai makanan, tentu beda jenis  makanan yang diperkenalkannya. Ada  juga faktor  fisiologis, misalnya selera bawaan, nafsu  makan dan tingkat  pertumbuhan. Sifat bayi sendiri  juga menjadi  faktor  penting, misalnya  suasana hati anak berkaitan  dengan  makan, ada  anak yang antusias tetapi  ada juga  anak yang kurang  suka makan. Ada  juga  pengaruh  sejak bayi  baru lahir dan riwayat anak tersebut  makan sejak lahir.

Di sisi  lain  ada  faktor karakteristik keluarga, faktor  demografi dan tahap perkembangan. Karakteristik keluarga  dan faktor  demografi membawa paparan mereka  terhadap  jenis, jumlah  makanan serta  bagaimana mereka bereaksi terhadap perilaku makan anak. Sedangkan  tingkat  perkembangan apakah  bebas, mengontrol, ada fobia tertentu  terhadap makanan atau mampu  makan sendiri  akan berpengaruh  terhadap perilaku  dan kesukaan  anak terhadap makanan. Baik  penerimaan terhadap makanan, pengaturan ataupun  jumlah makanan yang dikonsumsi. Berbagai  faktor ini akan  berpengaruh  terhadap  kebiasaan makan  anak dan  orang dewasa didalam keluarga.

Faktor  faktor yang mempengaruhi relasi timbal balik antara praktek pemberian makan orang tua dan pemberian  makan anak.

Screen Shot 2017-10-30 at 10.23.53 PM

Ada beberapa langkah  dan prinsip  pemberian makan yang responsif sebagai berikut :

  1. Bila  anak diberi makan dan berada dalam lingkungan yang hangat dan pengasuhan  yang  mendukung maka anak akan  merasa bahwa makan adalah sesuatu yang menyenangkan. Secara praktis, anak berusia 6  bulan biasanya  sudah siap untuk belajar makan sambil duduk. Anak bisa didudukkan dalam kursi yang aman dan ikut makan bersama  ayah-ibunya.  Makanannya mungkin bubur atau tim saring, lalu umur 7 bulan mulai dengan tim yang berisi  sayur mayur, tahu  tempe dengan kaldu ayam atau ati ayam yang dicincang. Anak bisa mulai belajar  untuk memegang sendok dan menyuapkan makan. Orang tua  bisa mengawasi bahwa makanan yang masuk  cukup. Lalu biarkan anak “bermain” menyendok makanan ke mulutnya, jangan paksakan anak makan.
  2. Pengasuh atau ibunya perlu mengenal tanda-tanda anak lapar. Posisi makan yang ideal adalah anak didudukkan dengan  nyaman menghadapi  pengasuh. Respons pengasuh harus  diperkenalkan dengan konsisten pada anak agar terjadi komunikasi antara  keinginan makan si anak dengan respon pengasuhnya. Kalau  anak memperlihatkan tanda kenyang, pengasuh memahami. Adanya jadwal  makan yang pasti akan mendukung ketepatan waktu makan, bahwa anak merasa lapar pada saat diberi makanan. Anak juga diajarkan bahwa pengasuh akan menyatakan  acara  makan selesai, namun ada prinsip  bahwa anak diberi makanan yang sesuai dengan perkembangan dan kemampuannya. Makanan anak  juga  perlu bervariasi  dan menarik. Pengasuh perlu mengenal tanda-tanda anak lapar dan kenyang serta memberi respon yang sesuai. Respon ini hendaknya secara  emosional mendukung, memenuhi syarat dan sesuai dengan tahap  perkembangan anak.
  3. Arahan yang dikenal saat  ini “ASI eksklusif” menyatakan bahwa sampai umur 6 bulan bayi hanya mendapat ASI saja. Tentu ini juga berbeda-beda, kalau produksi ASI tidak mencukupi atau tidak ada, bisa saja ditambah dengan susu formula. Disarankan agar susu tambahan  tidak diberikan dalam botol, tetapi diberikan  dengan  sendok, agar bayi  tidak terbiasa minum  dari  botol. Hal ini juga disarankan karena mencuci  botol dan menyeterilkannya bagi bayi dibawah 3 bulan cukup sulit dan mahal. Akibatnya bayi bisa kena infeksi  dan diare.
  4. Setelah 6 bulan, pelan-pelan bayi diperkenalkan pada sari buah, kerokan pisang, bubur susu, dan makanan tim. Lalu pada umur 9-10 bulan bisa diberi nasi lembek dengan sup, sehingga pada umur 12 bulan sudah ikut makan makanan dewasa seperti anggota keluarga lain.
  5. Beberapa  syarat  yang  perlu dipenuhi  untuk memperkenalkan makanan  padat adalah :
  • Bisa duduk tanpa dipegang, leher dan kepala sudah  cukup kuat
  • Bisa mengunyah dan menggunakan  lidahnya untuk menelan bubur
  • Tidak ada lagi refleks mengeluarkan  makanan padat
  • Meperlihatkan minat untuk berperan serta pada waktu  makan keluarga dan mencoba merebut makanan  untuk dimasukkan  ke mulutnya.

Tabel  berikut  memperlihatkan tanda  tanda lapar  dan kenyang sesuai  umur anak.

Screen Shot 2017-10-30 at 10.34.27 PM

Tabel  berikutnya  adalah anjuran di Amerika Serikat untuk aktifitas fisik bagi bayi. Secara  singkat, pengasuh  perlu  berinteraksi dengan bayi  dalam aktifitas fisik untuk mengembangkan gerakan-gerakan dan mengenal lingkungan. Pengasuh mendorong bayi dalam lingkungan yang mendorong  pengalaman gerakan dan bermain aktif dalam penggalan-penggalan waktu singkat sepanjang hari. Aktifitas fisik anak adalah untuk mempromosikan pengembangan keterampilan dalam bergerak dan sebaiknya anak berada dalam lingkungan yang aman dan mendukung  perkembangan otot  besar.

Screen Shot 2017-10-30 at 10.35.17 PM.png

Lalu apakah  Baby  Led  Weaning?

Weaning  adalah menyapih, jadi pada Baby Led Weaning, bayilah yang menentukan kapan ia mulai makan makanan pendamping ASI. Mulai populer dalam 10 tahun terakhir, BLW membolehkan bayi makan sendiri makanan keluarga dan mendorong  bayi untuk menentukan berapa sering dan berapa banyak dia makan. Pengikut BLW yakin  bahwa bayi akan memiliki perilaku makan yang sehat dan tumbuh kembang  lebih baik. Namun data yang  ada belum cukup  meyakinkan, sehingga  dibutuhkan  penelitian  lebih  lanjut untuk memahami  dampak  pendekatan  ini  pada  konteks  dan sasaran  yang berbeda beda.

Ada  penelitian  yang membandingkan bayi yang  mengikuti BLW dan bayi  yang diperkenalkan pada makanan pendamping ASI secara tradisional. Hasilnya anak anak yang mengikuti BLW lebih mudah mengkonsumsi makanan dewasa namun  dia makan lebih banyak lemak dan kurang makan zat besi, Zinc dan vit B12.

 Berikut ini beberapa  saran  agar BLW  berhasil  diantaranya :

  • Tunggu  sampai  bayi Anda siap. Bayi sudah bisa duduk tanpa dibantu, leher cukup kuat dan bisa menelan.
  • Teruskan memberi ASI dan atau susu formula. Sumber makanan utama  bayi  sampai 12 bulan adalah susu.
  • Tidak membiarkan anak makan sendiri, diajak bicara tentang  apa yang sedang ia  lakukan, dan tetap perlu diawasi, untuk menghindari bahaya tersedak.
  • Mulai dengan makanan lembut. Buah matang, telur rebus, daging cincang, mie atau sayuran rebus.
  • Siapkan makanan agar mudah dipegang. Makanan dalam bentuk pita, bulatan, atau potongan tipis yang  memudahkan.
  • Siap  untuk menjadi “kotor”. Lantai kursi dialasi koran, anak diberi  “tadah” khusus untuk makan, mandi setelah makan.
  • Makan  bersama. Ajak bayi  makan bersama keluarga.

Ada juga hal-hal yang perlu dihindari, yaitu:

  • Waktu  yang tidak tepat.  Jangan makan bila anak sedang ngantuk, lelah, atau marah.
  • Terlalu banyak makanan  baru. Sebaiknya makanan baru diperkenalkan empat hari sekali. Perhatikan juga reaksi alergi pada makanan tertentu yang mungkin terjadi.
  • Bereaksi panik. Tersedak adalah reaksi sehat untuk mengeluarkan makanan yang belum bisa diterima. Anak belajar dari Anda. Kalau Anda takut, maka dia akan takut  juga.
  • Tidak memperhatikan keamanan. Jauhi makanan yang rawan tersedak seperti sosis, kismis, sayuran mentah.
  • Menyuruh anak makan buru-buru. Beri waktu sekurang-kurangnya 10-15 menit.
  • Tidak memperhatikan tanda dari anak. Bila anak melemparkan makanan kemana-mana, mungkin dia sudah tidak  mau. Perhatikan tanda yang pada setiap anak pasti berbeda.
  • Bereaksi emosional atau marah. Makan adalah sesuatu yang alami, tidak pelu  dipuji, atau dimarahi.
  • Menyerah. Anak perlu berkenalan dengan makanan, ada yang mau makanan lembek dulu, menerima jenis makanan dengan lambat, atau perlu beberapa kali diperkenalkan.

Bagaimana  Panduan dari program  perbaikan  gizi?

Untuk  Indonesia yang menghadapi tingginya anak-anak kurang gizi kronis  yang  berakibat tingginya proporsi anak pendek dengan tumbuh kembang yang tidak optimal, yang dianjurkan  dalam “Makanan 1000  hari  pertama”. Ibu mendapat  pemeriksaan  hamil dan bersalin di Rumah  sakit  agar  terjamin pelayanan kesehatannya. Bayi  mendapat ASI eksklusif (tidak mendapat  makanan lain apapun) dalam 6 bulan pertama.

Pada anak usia 6-24 bulan, kebutuhan terhadap berbagai zat gizi semakin meningkat dan tidak lagi dapat dipenuhi hanya dari ASI saja. Pada usia ini anak berada pada periode pertumbuhan dan perkembangan cepat, mulai terpapar terhadap infeksi dan secara fisik mulai aktif, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi harus terpenuhi dengan memperhitungkan aktivitas bayi/anak dan keadaan infeksi.

Agar mencapai gizi seimbang maka perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI atau MP-ASI, sementara ASI tetap diberikan sampai bayi berusia 2 tahun. Pada usia 6 bulan, bayi mulai diperkenalkan kepada makanan lain, mula-mula dalam bentuk lumat, makanan lembik dan selanjutnya beralih ke makanan keluarga saat bayi berusia 1 tahun.

Ibu sebaiknya memahami bahwa pola pemberian makanan secara seimbang pada usia dini akan berpengaruh terhadap selera makan anak selanjutnya, sehingga pengenalan kepada makanan yang beranekaragam pada periode ini menjadi sangat penting. Secara bertahap, variasi makanan untuk bayi usia 6-24 bulan semakin ditingkatkan, bayi mulai diberikan sayuran dan buah-buahan, lauk pauk sumber protein hewani dan nabati, serta makanan pokok sebagai sumber kalori. Demikian pula jumlahnya ditambahkan secara bertahap dalam jumlah yang tidak berlebihan dan dalam proporsi yang juga seimbang.

Screen Shot 2017-10-30 at 11.06.26 PM

Terlihat  juga  anjuran  untuk  mencuci tangan dengan air  mengalir , membatasi  gula, garam  dan minyak, minum  air  serta  melakukan aktifitas  fisik.

Diskusi

Indonesia  mengalami  perubahan yang besar setelah tahun 2000, dengan adanya reformasi, kebebasan berpendapat dan meningkatnya penggunaan teknologi  informasi. Masyarakat menyikapi  perubahan yang besar dan cepat ini dengan gamang. Pada zaman orde baru, semua ditentukan dari atas, dengan melakukan  mobilisasi sosial. Indonesia terkenal dengan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang merupakan tempat pemantauan tumbuh kembang anak bawah  lima tahun,  pemberian makanan tambahan, pemberian oralit, pemberian imunisasi , pemeriksaan Ibu Hamil dan pelayanan Keluarga Berencana.

Walaupun  ada pesan penyuluhan, ternyata  masyarakat belum memahami manfaat  semua pesan penyuluhan tersebut. Hal  ini terlihat dari mundurnya aktifitas  pos pelayanan terpadu pasca reformasi, turunnya cakupan imunisasi dan kesertaan  masyarakat pada program Keluarga Berencana.

Dengan tingginya pengguna media sosial, masyarakat beralih menjadi “followers”. Tokoh-tokoh selebritas seperti Andien yang memiliki cukup banyak pengikut, utamanya para ibu-ibu muda dengan anak baru  satu. Banyak ibu-ibu muda yang menjadikan Andien barometer keberhasilan menjadi orang tua. Mereka menganggap dirinya berhasil mengasuh anak kalau bisa melakukan apa yang dilakukan Andien terhadap anaknya. Sayangnya, banyak yang belum memahami  prinsip tumbuh kembang dan pemberian makanan pendamping ASI yang mendasar.

Sebenarnya kalau kita memahami prinsip dasar pemberian makanan pendamping ASI, bisa saja menerapkan BLW dengan baik dan memetik manfaat bagi tumbuh kembang bayi yang optimal.  BLW mendorong anak lebih mandiri dan makan dengan aktif, tetapi Ibu perlu tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta percaya bahwa setiap anak memiliki kepribadian sendiri dan tidak bisa dipaksa untuk menerima perlakuan apapun termasuk BLW. Disamping itu, perlu disadari  bahwa yang penting bukan pemilihan metode pemberian makanan pendamping ASI, mau cara tradisional atau BLW, tetapi  bagaimana anak mencapai  tumbuh  kembang optimal dengan dukungan lingkungan.

Ibu dan ayah bayi sebaiknya selain memiliki pengetahuan tentang pemberian makan pada bayi dan anak balita, juga memiliki kepercayaan diri. Percaya bahwa mereka yang paling tahu apa kebutuhan anaknya. Di sisi lain,  tenaga kesehatan dan para ahli siap untuk mendukung dengan memberikan penjelasan, bila ada, kebutuhan dari Ibu atau  pengasuh, tanpa menganggap mereka tidak  punya  pengetahuan apapun.

Kesimpulan  dan Saran

  1. Baby  Led Weaning (BLW)  adalah suatu  cara yang berkembang dan diadopsi  oleh tokoh masyarakat di Indonesia. Keberhasilannya belum cukup meyakinkan, namun ada potensi keberhasilan dalam pemberian  makanan  pendamping ASI asal dipahami  prinsip  dasarnya.
  2. BLW berpotensi meningkatkan  kemampuan anak untuk makan dengan  mandiri, namun perlu dipenuhi  ebutuhan zat besi, zinc  dan vit  B 12nya.
  3. Ada  hal-hal  yang perlu  dilakukan  dan perlu dihindari  agar BLW berhasil  mendukung  roses  tumbuh  kembang anak.
  4. Pemberian  makan  pada  anak dipengaruhi  oleh berbagai  faktor, baik bawaan, lingkungan  maupun pengetahuan  dan  kebiasaan orang tuanya.
  5. Untuk  tumbuh  kembang anak yang optimal pemberian  makan hanya salah satu faktor, bagaimana anak ditenangkan, ditidurkan  dan diajak main juga penting.
  6. Bagi  Indonesia yang menghadapi masalah anak pendek, pemberian  makanan pendamping ASI merupakan  kelanjutan  dari perawatan, pemeriksaan hamil yang memadai dan persalinan di  Rumah sakit. Tanyakan ke petugas.
  7. Sebaiknya para selebritas juga memperkenalkan pengetahuan dasar dan syarat syarat yang perlu dipenuhi agar BLW berhasil mendukung tumbuh  kembang anak.

Daftar  Pustaka

  1. Ketika  bayi  menyuap  sendiri, Nur Alfiyah TEMPO  3  September 2017 hal 68-69
  2. Baby  Led weaning, the  evidence  to date. Apr 29, 2017 – June 2017 , Volume 6, Issue 2, pp 148–156  diakses  Agustus 2017  dari https://link.springer.com/article/10.1007/s13668-017-0201-2.
  3. Healthy  eating research, February  2017, diakses Agustus  2017 dari http://healthyeatingresearch.org/wp-content/uploads/2017/02/her_feeding_guidelines_report_021416-1.pdf
  1. The  do’s and don’ts  of  Baby  led weaning, Emily Carrus Parents  magazine  diakses  Agustus 2017 dari http://www.parents.com/baby/feeding/solid-foods/dos-and-donts-of-baby-led-weaning/
  2. Your  bby  first  solid food , NHS Choice When to start  introducing solid food diakses Agustus 2017 dari  http://www.nhs.uk/Conditions/pregnancy-and-baby/pages/solid-foods-weaning.aspx
  3. Pedoman  Gizi seimbang Depkes 2014, diakses   Agustus 2017  dari http://gizi.depkes.go.id/download/Pedoman%20Gizi/PGS%20Ok.pdf
  4. Dietary  intake differs in infants  who follow  baby led weaning, Science  daily  May 2016  diakses Agustus 2017 dari https://www.sciencedaily.com/releases/2016/05/160517094206.htm
  5. How  different  are  Baby Led Weaning and  conventional complementary  feeding in  BMJ  May 2016  diakses  Agustus 2017  dari http://bmjopen.bmj.com/content/6/5/e010665
  6. Simply  nurtured,   Jenna lesner  July  27,2017  diakses Agustus 2017  dari http://www.simplynurtured.ca/single-post/2017/07/26/Baby-Led-Weaning
  7. Infant  and  young  child  feeding The  world health organization fact sheet, update  July  2017  diakses  Agustus 2017 dari http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs342/en/
  8. A history  of  Baby Led Weaning, Journal  of he  health  visiting,October 2016  Sara  Jones  diakses Agustus 2017 dari http://www.magonlinelibrary.com/doi/abs/10.12968/johv.2016.4.10.524

2 thoughts to “Tentang Baby Led Weaning oleh Ilsa Nelwan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *